Sebagaimana yang telah kami bahas dalam tulisan sebelumnya, aktivisme brand atau brand activism menjadi salah satu tren marketing yang cukup populer tahun ini dan diprediksi akan semakin menggila hingga tahun-tahun berikutnya. Benarkah? Lanjutkan membaca!
—
Sebelum bertindak, pertimbangkan bagaimana tindakan historis Anda, nilai-nilai perusahaan, dan pastikan audiens yang ada tetap selaras dan mendukung sepenuhnya brand dan gerakan Anda.
Adalah gagasan yang cukup modern bahwa brand memiliki peran untuk dimainkan ketika krisis dalam hal sosial budaya. Perusahaan baru-baru ini berevolusi menjadi organisme yang tampaknya sadar diri dengan karakter dan sudut pandang. Hasilnya, konsumen sekarang melihat brand sebagai cerminan dan identitas dari nilai mereka sendiri.
Kontrak dasar antara brand dengan konsumennya sekarang melampaui pertukaran transaksional barang dan jasa. Dengan memulai hubungan dengan pelanggan mereka, brand mendorong loyalitas dan meningkatkan profitabilitas, tetapi membawa serta tanggung jawab baru. Konsumen mengharapkan brand untuk memenuhi idealitasnya.
Berdiri, dan ambil tempat
Orang-orang bisa dengan cepat mengenail kemunafikan. Jika misalnya, sebuah brand menunjukkan dukungan untuk sebuah gerakan (misalnya Black Lives Matter) di media sosial, tetapi gagal dalam mengatasi kekurangan di internalnya sendiri, langkah tersebut dapat terlihat sebagai sinyal kemunafikan. Ketika sebuah brand membuat pernyataan dalam masa krisis, itu berarti mereka memilih menempatkan diri di dalam pengawasan konsumen—yang akan mencari tindakan yang mendukung pernyataan tersebut.
Namun, setiap tindakan perlu dipikirkan dengan matang. Tindakan apa pun tanpa kejelasan dapat menyabotase diri sendiri, mengakibatkan badai media sosial, memaksa pengiklan untuk keluar dan memutus kerja sama yang telah terjalin lama, dan menurunkan saham secara langsung.
Jika tindakan yang diambil tidak selaras dengan aktivitas brand secara historis, maka tindakan tersebut akan terlihat tidak tulus. Dengan demikian, brand yang paling tepat untuk berbicara dalam masa krisis adalah brand yang sudah menjalin dan membina hubungan dengan komunitas yang membutuhkan dengan membuat komitmen jangka panjang, mengambil risiko pemasaran, dan menawarkan produk khusus.
Jangan ikut-ikutan
Meski demikian, brand yang belum memiliki jejak historis atau dengan rekam jejak yang belum panjang, juga tetap dapat menemukan cara untuk mendukung suatu gerakan.
Sebelum menentukan untuk mengambil tindakan, brand harus terlebih dahulu melihat dari sudut pandang yang berbeda dan mempertanyakan apakah mereka harus bertindak atau tidak. Saat memutuskan bagaimana menanggapinya, setiap brand harus mempertimbangkan bagaimana tindakan historisnya, nilai-nilai perusahaan, dan audiens yang ada selaras dengan penyebab yang ada.
Di dunia di mana hubungan brand-konsumen telah menjadi lebih ke dialog alih-alih siaran, brand harus melakukan pekerjaan memahami tindakan apa (internal dan publik) yang paling mewakili nilai-nilainya dan nilai-nilai pelanggannya.
Hal ini terutama penting ketika aktivisme pelanggan meningkat. Sebagaimana yang kita lihat dalam babak baru dalam gerakan Black Lives Matter, tidak semua respons disambut dengan pujian. Meski brand sering kali merasakan tekanan atau keinginan untuk segera bereaksi, sangat penting untuk memikirkan tanggapan terbaik terlebih dahulu.
Tidak ada satu jawaban untuk semua pertanyaan
Kami telah mengantisipasi empat jalur utama yang dapat diambil brand dalam menanggapi penyebab apa pun secara spesifik:
#1 Pemimipin Aksi (Leader of Action)
#2 PLD (Pause, Learn, Decide) atau Jeda, Pelajari, Putuskan
#3 Tingkatkan Komunitas
#4 Ulasan/Janji yang Jujur
Namun, kunci untuk menentukan peran mana yang paling cocok adalah dengan melakukan pekerjaan rumah secara menyeluruh. Pastikan apa yang sebetulnya ditawarkan oleh brand Anda.

Give your Opinions