Kebangkitan Social Commerce yang Tak Terhindarkan

“I am inevitable.”

Itu adalah kalimat yang dilontarkan oleh Thanos dalam film Avengers: Endgame, dan menjadi salah satu kalimat paling ikonik dari film terlaris sepanjang masa karya Marvel itu.

Sama halnya dengan Thanos yang tak terhindarkan untuk menjadi penyebab lenyapnya setengah populasi manusia di bumi, begitu pula dengan kebangkitan social commerce, sebuah kegiatan berbelanja langsung di dalam platform media sosial yang belakangan ini menjadi sebuah tren yang diprediksi akan bertahan cukup lama seiring dengan terus meningkatnya pengguna dan penggunaan media sosial di seluruh dunia.

Dengan hampir separuh populasi dunia saat ini menggunakan media sosial, kesadaran yang berkembang akan social commerce tampaknya benar-benar menjadi sesuatu yang tak terhindarkan.

49% dari total populasi dunia saat ini—atau sekitar 3,8 miliar orang—menggunakan media sosial. Sebanyak 9% (321 juta) meningkat dari 2019, merujuk pada data yang dirilis oleh situs social media management, Hootsuite dan agensi We Are Social.

“Kami percaya bahwa media sosial adalah kanal yang krusial bagi brand retail yang mencari cara untuk terhubung dengan pelanggan lama maupun pelanggan baru,” kata Suzie Shaw, Managing Director di We Are Social Sydney.

Menurutnya, kanal yang sedang bertumbuh ini, yang kini telah mencapai angka penetrasi hingga 71% di Australia, menawarkan peluang tak tertandingi untuk menarget konsumen secara akurat tidak hanya berdasarkan demografi, tetapi juga pada minat dan perilaku. Hal tersebut memungkinkan brand untuk mengubahsesuaikan pesan utama mereka ke banyak audiens yang berbeda.

Sekarang juga semakin banyak orang yang menggunakan media sosial untuk melakukan riset dan mencari tahu soal brand baru berkat konten-konten yang dipromosikan, rekomendasi pelanggan, dan dukungan influencer.

“Sangat penting bagi brand untuk memiliki strategi yang solid dan mempertimbangkan bagaimana konsumen membicarakan mereka dan produk mereka, dan menggunakan media sosial untuk memberikan dukungan dan umumnya menambah nilai dalam hidup mereka, memenangkan kepercayaan mereka, dan pada waktunya, kesetiaan,” tambah Suzie.

Sementara itu, Nathan Huppatz, seseorang di balik Costumes.com mengatakan bahwa brand retail masa kini harus melihat ke gambar besarnya.

“Mengatribusikan kanal (seperti Google) menjadi sedikit lebih sulit dengan platform sosial seperti Facebook, Instagram, Twitter, dan lainnya,” kata Nathan.

Menurutnya, konsumen mungkin melihat brand Anda hari ini di Instagram, lalu menemukannya di Facebook pada hari berikutnya, dan hal itu mendorong mereka untuk melakukan pencarian di Google, mengklik iklan, dan membeli sesuatu. “Jadi, dalam skenario seperti itu, mana yang harus dikaitkan dengan penjualan? Semuanya berperan,” ungkap Nathan.

Berdasarkan laporan dari Digital 2020, rata-rata waktu yang dihabiskan di media sosial adalah 2 jam 24 menit, secara global, terhitung lebih dari sepertiga dari total waktu orang-orang di internet.

Saat ini, platform media sosial yang paling banyak digunakan adalah Facebook, YouTube, dan WhatsApp. TikTok yang berada di posisi ketujuh kini memiliki sekitar 800 juta pengguna aktif bulanan, dengan 500 juta-nya berada di Cina sendiri.

Data juga menunjukkan bahwa terjadi peningkatan dalam hal periklanan di semua platform media sosial besar. Data Facebook menunjukkan peningkatan hingga 1% dalam kuarter terakhir, sementara Instagram tumbuh hingga 6% dalam rentang waktu yang sama. Namun, yang paling menyita perhatian adalah Pinterest yang naik hingga 12% setelah mereka menambahkan beberapa negara yang menjadi target periklanan mereka.

Laporan Digital 2020 juga mengungkapkan bahwa ada 4.54 miliar orang saat ini yang terhubung ke internet, meningkat 298 juta dari tahun ke tahun, atau 7%, mendekati angka penetrasi internet 60%. Namun, setengah dari angka tersebut menggunakan ad-blocker.

Dan sisanya, sekitar 3.2 miliar orang di dunia masih tidak terhubung dengan internet alias offline.

Pada tahun 2020 di mana pandemi coronavirus masih terus menjadi ancaman global, penggunaan internet rata-rata meningkat pesat. Rata-rata pengguna menghabiskan waktu 6 jam 43 menit per hari. Secara global, pengguna internet akan menghabiskan waktu 1,25 miliar tahun untuk online selama tahun 2020 ini, dengan Google dan YouTube sebagai dua situs yang paling banyak diakses dan dikunjungi, sementara secara mengejutkan Yahoo! juga masih tetap populer dengan mengalahkan trafik dari Amazon dan beberapa situs khusus dewasa.

Data juga menunjukkan bahwa sekarang ada 5,9 miliar pengguna internet yang mengakses dari perangkat seluler secara global, dan itu berarti untuk pertama kalinya internet diakses lewat seluler oleh lebih dari setengah dari total pengguna internet global saat ini (50,1%).

Dalam beberapa tahun terakhir, platform media sosial telah mengembangkan berbagai fitur seperti Facebook Collections dan Instagram Shopping—untuk membuat jalur belanja dan berbagi menjadi semakin mulus tanpa hambatan. Baru-baru ini, Pinterest menambahkan fitur “Try On” dengan memanfaatkan teknologi AR Lens, memungkinkan orang untuk mencoba berbagai riasan dari berbagai brand, lalu melakukan pembelian hanya dengan menggeser layar ke atas satu kali.

Suzie Shaw mengatakan, dalam pemasaran digital, tidak ada istilah one-size fits for all. Strategi kemenangan untuk satu brand dapat memberikan hasil negatif untuk brand lain, bahkan pada kategori yang sama.

Sementara Nathan Huppatz menyarankan penggunaan perkakas marketing yang tersedia online. Menurutnya, banyak perkakas hebat yang dapat dimanfaatkan oleh brand maupun bisnis retail, mereka hanya harus memilih yang paling cocok dengan mereka.

Namun, ia menyimpulkan bahwa bagaimana pun yang harus dilakukan adalah hal paling fundamental, yaitu fokus pada hal-hal yang dapat membuat pelanggan terus kembali dan kembali.

“Produk hebat dengan harga yang kompetitif tentu saja adalah hal yang bagus, tetapi layanan pelanggan yang luar biasa juga tidak dapat disingkirkan. Hal ini termasuk dukungan pelanggan, dan hal-hal terkait setelah pembelian. Pilihan pengiriman yang baik, pengemasan yang bagus, semuanya sama pentingnya jadi buatlah berkesan.”

Mulai Buat Konten dan Dapatkan Hadiah

Setelah menyelesaikan kerja sama dan membagikannya dengan pengikut Anda, Anda akan dibayar melalui PayPal atau Cek - mudah, kan?

Brand Menggunakan StarNgage untuk Menemukan Micro-Influencer di Instagram

Berkonsultasilah untuk membahas bagaimana kami dapat membantu Kampanye Influencer Marketing Anda selanjutnya.

มาเริ่มสร้างสรรค์เนื้อหาที่ยอดเยี่ยมและรับรางวัล

เมื่อเนื้อหาของคุณผ่านการอนุมัติและแชร์ไปยังผู้ติดตามของคุณ คุณจะได้รับเงินผ่าน PayPal หรือเช็ค - ง่ายๆ แบบนั้นเลย!

หลายแบรนด์ต่างเลือกใช้StarNgage เพื่อค้นหา อินสตาแกรม ไมโคร-อินฟูลเอนเซอร์

ติดต่อขอคำปรึกษาเพื่อให้เราได้ช่วยแนะนำแคมเปญ ส่งเสริมการตลาดออนไลน์ของคุณผ่านกลุ่มคนที่มีอิทธิพล

Start Creating Great Content and Get Rewarded

Once you complete your endorsement and share it with your followers, you get paid via PayPal or Check - it’s that simple!

Brands use StarNgage to Find Instagram Micro-Influencers

Request a consultation to discuss how we can help your next Influencer Marketing Campaign.

Give your Opinions