Ketika sebuah brand masih tergolong baru dan sedang berkembang, mereka cenderung lebih bebas—dan sering kali lebih menyenangkan dan kreatif—dengan konten mereka. Mereka bertahan dengan cara menjadi baru dan beda, dan bergantung pada percikan dari luar.
Sedangkan brand yang sudah matang, kecenderungannya adalah mulai mencari ke arah brand yang lebih mapan di industri untuk membangun konsistensi dan kredibilitas tinggi. Berikut ini adalah 5 cara membuat konten marketing Anda seimbang dan terlihat menyenangkan.
#1 Dengarkan Pasar
Apa yang orang-orang unduh, klik, dan tanggapi? Kita bisa melihat melalui media sosial apa yang sedang ramai diperbincangkan di sana dan menciptakan jalur komunikasi terbuka dengan orang-orang yang menjalankan marketing media sosial. Fokus pada khalayak yang paling banyak terlibat, baik saat ini dan di masa lalu.
Cari tahu konten apa yang paling efektif mengundang keterlibatan dan mana yang dapat membangun fondasi audiens Anda.
#2 Lakukan Pendekatan Konten Berdasarkan Fungsi
Konten teratas bisa memiliki perbedaan yang sangat signifikan dengan konten terbawah. Jika mengesampingkan sisi “bersenang-senang” maka Anda tidak akan bisa bertahan lama di ranah media lama dan media sosial, tetapi jika Anda semakin dekat menjangkau ranah itu, maka akan semakin meningkatkan autoritas perusahaan.
Konten marketing adalah pembahasan yang sangat serius, sehingga menemukan cara untuk menambahkan sisi menyenangkan di dalamnya akan menjadi titik penting yang menjadi pencair suasana.
Dan satu hal penting yang harus digarisbawahi adalah bahwa sekalipun serius dan cenderung membosankan, bisa saja sebuah konten menjadi menarik untuk pasar tertentu yang ditarget, terutama ketika konten tersebut secara langsung menjawab kebutuhan dan pertanyaan mereka.
Jadi, sudah benar untuk membuat konten agar tidak terlihat kaku, tetapi jangan lupa bahwa kita membuat konten untuk memenuhi kebutuhan audiens sehingga penting untuk memastikan isi dari konten tersebut berguna untuk mereka.
#3 Jadi Manusia (Manusiawi)
Ketika mencoba mencari spot terbaik untuk konten marketing Anda, ingat bahwa Anda tidak harus selalu lucu, serius, mengundang tawa, atau hal lainnya untuk membuatnya efektif. Yang paling penting adalah tetap manusiawi dan relatable.
Banyak brand yang jatuh dan terperangkap dalam pemikiran bahwa “informatif” dan “autoritatif” adalah sinonim dari “kaku” dan “membosankan”, tetapi adalah penting untuk menyematkan hal-hal yang menyenangkan saat membahas hal serius untuk menyeimbangkan konten. Tetap menjadi manusia adalah salah satu caranya.
#4 Menjadi Fleksibel dengan Pedoman Branding
Sangat umum untuk pedoman branding untuk dibuat dalam beberapa jenis konten—salah satunya ebook—tanpa mempertimbangkan bagaimana pedoman tersebut akan diterjemahkan ke sosial atau blog perusahaan.
Hal ini dapat menyudutkan konten marketing dan menempatkannya dalam posisi yang sulit. Maksudnya, Anda bisa saja menyenangkan bos dengan membuat konten sesuai pedoman branding tetapi tidak cocok untuk audiens sehingga Anda gagal menjangkau mereka. Anda butuh Art atau Creative Director untuk mencari jalan tengah atas masalah ini, segera.
Beruntungnya, saat ini Anda dapat menemukan dengan mudah orang yang tepat yang mengerti betapa pedoman branding yang terlalu ketat dan kaku dapat merusak citra brand cepat atau lambat. Mereka tahu hal-hal baru yang dapat meningkatkan reputasi dan kredibilitas brand tanpa harus merusak citra yang sudah lama dibangun.
Fleksibilitas adalah kuncinya.
#5 Hindari Kampanye yang Terlalu Sempit
Jika Anda mendambakan keberhasilan kampanye lintas platform, pastikan Anda membuatnya fleksibel. Misalnya Anda membuat konten yang bisa efektif di Twitter yang cenderung berbasis teks, dan Anda juga ingin menjadikannya viral di media lain seperti Instagram atau YouTube, maka Anda harus membuat konten Anda fleksibel dengan mengikuti ketentuan setiap platform.
Kampanye yang terlalu sempit berarti Anda juga akan menyasar audiens di satu ranah kecil. Itu sama artinya dengan mempersempit tingkat keberhasilan sebuah kampanye. Kita tidak pernah tahu di platform mana sebuah kampanye lebih efektif, tetapi kemungkinannya lebih besar ketika Anda mencoba mendekati semua platform, kan?
Give your Opinions