10 Tren Teratas Media Sosial Tahun 2020

Dalam satu dekade terakhir, media sosial telah berkembang dan menjadi semakin solid dengan beragam komunitas yang lahir di dalamnya. Sekarang, ada 3,2 miliar orang yang aktif dari seluruh dunia di media sosial setiap harinya.

Lebih dari 90% milenial secara teratur menggunakan setidaknya satu platform media sosial, sementara lebih dari 80% Gen Z belajar tentang produk baru melalui media sosial.

Berdasarkan data dan fakta di atas, tidak sulit untuk melihat mengapa hampir hampir tiga perempat pemasar meyakini bahwa media sosial adalah bagian yang efektif bagi bisnis mereka.

Seiring dengan akan berakhirnya dekade ini, tidak ada keraguan lagi bahwa media sosial akan memainkan peran yang penting dalam kehidupan kita pada masa yang akan datang. Lalu, bagaimana seharusnya bisnis, brand, influencer, dan pengguna pada umumnya mengantisipasi masa depan untuk platform sosial?

Berikut ini akan kami jabarkan 12 prediksi tren besar yang akan hadir di media sosial selama tahun 2020 dan tahun-tahun selanjutnya:

#1 Hilangnya tombol “suka” di Instagram

Bukan lagi rahasia umum bahwa brand (bahkan oleh pengguna biasa) sering terfokus pada angka “suka”, komentar, dan pengikut di media sosial sebagai ukuran tingkat popularitas. Namun, obsesi ini rupanya memiliki dampak negatif pada kesehatan mental, dan benar-benar dapat menghalangi flow of engagement yang bebas.

Dengan hilangnya tombol “suka”, pengguna akan berhenti dan mengunbah fokus untuk terlibat dengan cara yang lebih bermakna.

Instagram adalah salah satu yang terbaru dari daftar panjang situs media sosial yang ingin menjadikan “suka” tidak dijadikan fokus oleh pengguna. Anda tidak akan lagi dapat melihat jumlah “suka” dari pengguna Instagram lainnya, meski Anda masih dapat melihat jumlah “suka” dari postingan sendiri.

Gagasan untuk menghilangkan “suka” ini banyak dipuji dan dianggap dapat membantu mengurangi praktik jual beli pengikut dan “suka” yang kerap terjadi di Instagram. Sejauh ini cara tersebut memang berhasil, tetapi tetap saja pemasar, brand, dan juga influencer perlu menemukan cara untuk beradaptasi dengan perubahan baru itu.

#2 Konten video bercerita adalah raja

Video secara terus-menerus menjadi tren paling panas di dunia media sosial. Bahkan, diprediksi 82% lalu lintas di internet pada tahun 2020 akan diisi oleh konten video. Ketika media sosial mencari cara untuk mendistribusikan dan memprioritaskan konten video, pemasar akan cenderung tidak menyukai video sebagai bagian dari strategi keseluruhan mereka untuk menargetkan pasar tertentu.

Perhatikan dengan baik bagaimana format ini membentuk kembali strategi pemasaran. Akan ada penekanan pada storytelling yang menarik dan kreatif untuk menarik perhatian audiens dalam hitungan detik. Brand harus memiliki kemampuan melibatkan pengguna lewat video yang bercerita (terutama di platform di mana “suka” dihilangkan).

#3 TikTok sebagai disrupsi video sosial

Penekanan pada video berarti bahwa platform berbasis video seperti TikTok, Laso, dan Byte akan terus tumbuh dalam popularitas. Dari platform yang disebutkan di atas, TikTok adalah disruptor teratas yang ada saat ini, dengan pengguna dari Gen Z dan para milenial.

Aplikasi berbasis video yang berasal dari Cina ini adalah lahan subur bagi para influencer—termasuk micro-influencer di dalamnya.

TikTok terus meningkatkan keterlibatan setiap pengguna dengan kontennya yang segar, menarik, dan menghibur yang tidak terlalu fokus pada cara hard selling. Singkatnya, TikTok adalah antitesis dari Instagram di mana semuanya harus terlihat sempurna di sana.

#4 Segmentasi audiens media sosial

Entah untuk memasarkan produk maupun branding itu sendiri, pastikan untuk memperhatikan audiens dalam setiap postingan yang Anda unggah di media sosial—atau setidaknya mengira-ngira siapa audiensnya sehingga konten menjadi relevan.

Masalahnya, kita tidak selalu punya pemahaman soal siapa sebenarnya audiens yang ada di ceruk kita, sementara kita juga tidak melakukan pekerjaan yang terlalu baik untuk menyesuaikan pesan kepada audiens yang ditarget. Pendekatan seperti ini (satu konten untuk semua audiens) tidak mendukung segmentasi audiens.

Segmentasi berarti Anda harus membagi audiens Anda secara strategis ke dalam kelompok tertentu berdasarkan preferensi individu.

Segmentasi melampaui demografi dasar dengan memungkinkan Anda untuk menargetkan dan menumbuhkan hubungan dan rasa kebersamaan kepada audiens yang spesifik. Tahun ini hingga tahun-tahun mendatang, segmentasi audiens akan menjadi garis yang menentukan antara strategi media sosial tingkat pemula dengan tingkat lanjut.

#5 Video marketing yang dipersonalisasi

Segmentasi audiens akan berjalan seiring dengan meningkatnya tingkat marketing di media sosial yang dipersonalisasi. Maka, sangat masuk akal jika menggabungkan segmentasi dengan video yang pada akhirnya akan dapat menghasilkan video marketing yang dipersonalisasi.

Caranya adalah cari tau (lakukan riset) soal video yang relevan dan disesuaikan dengan audiens spesifik di pasar yang ingin Anda targetkan.

Platform media sosial termasuk Facebook, Snapchat, dan Instagram sejauh ini telah berhasil mendorong brand untuk menghasilkan video lewat iklan di Story, dan Sebagian besar alasannya adalah karena hasilnya dapat memberikan tingkat klik yang jauh lebih tinggi dibandingkan format iklan lainnya—terutama yang tidak bergerak.

Baru-baru ini Twitter juga ikut terjun dengan video iklan berdurasi 6 detiknya. Langkah ini akan membuat konten yang dipersonalisasi akan membawa tren video marketing yang dipersonalisasi ke level yang semakin tinggi dan menarik untuk dicoba oleh brand, pemasar, dan influencer.

#6 Social shopping di dalam platform sosial

Dalam 10 tahun terakhir, platform media sosial telah memainkan peran penting dalam membantu e-commerce menjadi industry yang bernilai besar, tidak hanya di Amerika Serikat, tetapi di seluruh dunia. Faktanya, kini social shopping menjadi bagian besar dari media sosial.

Pengguna memiliki harapan untuk memiliki akses langsung ke brand melalui media sosial. Sementara brand membuat pelanggan lebih dekat dengan cara menciptakan minat yang tinggi melalui storytelling yang menarik yang kreatif (seringnya melalui kerja sama dengan influencer dan video marketing).

Hal lain yang harus dilakukan adalah menciptakan pengalaman berbelanja langsung di media sosial tanpa meninggalkan halaman di media sosial tersebut, seperti yang dilakukan oleh Instagram setahun terakhir.

Tidak diragukan lagi, semakin hari cara berbelanja seperti ini akan menjadi tren yang terus maju. Meski TikTok belum memasuki pasar ini, diperkirakan tidak lama lagi para pemasar akan menemukan celah untuk memanfaatkannya—membuat persaingan social shopping di media sosial semakin menarik.

#7 Audiens yang menginginkan koneksi yang bermakna

Ketika orang-orang menjadi semakin waspada terhadap postingan di media sosial, pemasaran pun harus mengikuti.

Brand harus menemukan cara untuk membuat hubungan yang lebih dalam dan penuh makna dengan audiens tanpa membuat mereka merasa terganggu. Tren ini akan menciptakan komunitas brand, atau grup di mana pesan brand menjadi relevan, dan Anda juga dapat menerima pesan langsung dari mereka untuk membuat koneksi menjadi dua arah dan intim.

Sebagai contoh, pada tahun 2018 lalu, Facebook melakukan survei ke 8.000 orang dan menemukan bahwa 69% responden mengatakan bahwa mengirim pesan langsung ke brand membantu mereka untuk lebih percaya diri tentang brand tersebut.

Di Instagram, ada fitur “Close Friend” yang dapat di mana pengguna dapat memilih kepada siapa saja konten mereka dapat dilihat—yang membuat audiens memiliki koneksi yang lebih bermakna karena memiliki perasaan berada di lingkungan eksklusif dan intim.

#8 Konten yang autentik sebagai kunci penjualan di media sosial

Ketika e-commerce membuat iklan yang memperlihatkan kelebihan sebuah produk, pengguna akan lebih skpetis terhadap informasi tersebut. Mereka lebih ingin mendengar ulasan dari orang sungguhan yang pernah menggunakan produk tersebut secara langsung, sebelum mereka memutuskan untuk membeli.

Di situlah letak pentingnya konten yang dibuat oleh pengguna dan konten yang dibuat oleh brand. Namun intinya, konten harus autentik.

Jenis konten yang dibuat pengguna seperti ini sudah sangat banyak di berbagai kanal. Anda dapat menemukannya di YouTube, media sosial seperti Twitter, Facebook, Instagram, bahkan TikTok hingga blog. Formatnya bisa berupa teks, gambar, hingga video. Pada akhirnya, autentisitas yang menentukan keberhasilannya.

#9 Marketing influencer jadi nano

Pepatah lama mengatakan, “Lebih besar, lebih baik”. Namun, di media sosial pepatah tersebut kini dapat dipatahkan. Nano-influencer mengambil peran yang cukup penting dewasa ini.

Kemungkinannya adalah pasar untuk influencer besar akan selalu ada, tetapi micro-influencer ke bawah yang memiliki pengikut lebih kecil juga memberi dampak yang signifikan dan efektif. Influencer pada level ini menawarkan tingkat personalisasi yang lebih besar dan tingkat keterlibatan yang lebih kuat.

#10 Media sosial adalah tempat untuk memelihara kepercayaan

Brand sebaiknya mengingat bahwa media sosial bukan hanya sekadar platform untuk pemasaran dan periklanan, tetapi juga tempat untuk membangun dan memelihara hubungan dan kepercayaan dengan audiens.

Media sosial menawarkan jalan untuk mengomunikasikan nilai sebuah brand dan terlibat lebih dalam dengan pelanggan potensial mereka di sana.

Melakukan hal ini membutuhkan strategi yang harus menyesuaikan dengan segmen dan relevansi audiens, tetapi tetap harus dilakukan demi menjaga hubungan dengan mereka. Fokus pada kesenangan dan melakukan keterlibatan sederhana serta responsive terhadap komunikasi pelanggan akan menjadi salah satu cara efektif yang patut dicoba. Di samping itu, brand harus menemukan cara lain untuk menunjukkan tanggung jawab sosial dan tingkat interaksi sosial yang lebih dalam.

Cara-cara tersebut akan membantu Anda dan brand Anda tetap terdepan dalam segala hal di media sosial.

Mulai Buat Konten dan Dapatkan Hadiah

Setelah menyelesaikan kerja sama dan membagikannya dengan pengikut Anda, Anda akan dibayar melalui PayPal atau Cek - mudah, kan?

Brand Menggunakan StarNgage untuk Menemukan Micro-Influencer di Instagram

Berkonsultasilah untuk membahas bagaimana kami dapat membantu Kampanye Influencer Marketing Anda selanjutnya.

มาเริ่มสร้างสรรค์เนื้อหาที่ยอดเยี่ยมและรับรางวัล

เมื่อเนื้อหาของคุณผ่านการอนุมัติและแชร์ไปยังผู้ติดตามของคุณ คุณจะได้รับเงินผ่าน PayPal หรือเช็ค - ง่ายๆ แบบนั้นเลย!

หลายแบรนด์ต่างเลือกใช้StarNgage เพื่อค้นหา อินสตาแกรม ไมโคร-อินฟูลเอนเซอร์

ติดต่อขอคำปรึกษาเพื่อให้เราได้ช่วยแนะนำแคมเปญ ส่งเสริมการตลาดออนไลน์ของคุณผ่านกลุ่มคนที่มีอิทธิพล

Start Creating Great Content and Get Rewarded

Once you complete your endorsement and share it with your followers, you get paid via PayPal or Check - it’s that simple!

Brands use StarNgage to Find Instagram Micro-Influencers

Request a consultation to discuss how we can help your next Influencer Marketing Campaign.

Give your Opinions