Virtual Influencer: Keanehan Dunia Influencer

Istilah “influencer” sebenarnya adalah istilah yang masih sangat baru dalam dunia pemasaran, dan mengacu pada seseorang (bisa juga kelompok) yang memiliki pengaruh terhadap audiens mereka yang besar lewat media sosial. Banyak brand global kini telah bekerja sama dengan influencer untuk memanfaatkan (dan untuk menghasilkan uang dari) pengikut yang loyal, terlibat, dan berdedikasi. Kini, kita menyambut era baru influencer yang dihasilkan oleh sebuah perangkat komputer—dan, ya itu adalah hal yang aneh jika Anda bisa membayangkan.

Tapi apakah influencer yang diciptakan oleh komputer ini—bukan seseorang tetapi citra/persona seseorang—merupakan fenomena yang rasanya sebuah langkah yang terlalu jauh?

Sebuah artikel dari BBC baru-baru ini juga fokus menyoroti tentang batas yang mengabur antara kepribadian manusia dengan kepribadian yang dihasilkan oleh komputer. “Pada kenyataannya, bukankah semua influencer adalah digital? … Anda bisa tahu bahwa mereka ada karena mereka hadir di media atau platform digital entah itu Instagram, Facebook, YouTube, dll.”

Menjadi pertanyaan juga ketika muncul pernyataan bahwa kita tidak memiliki pengalaman bertemu secara langsung dengan influencer melainkan hanya gambar di lain layar di platform yang sama. Jadi, kita tidak pernah tahu pasti jika gambar tersebut asli atau palsu.

Kini tren influencer virtual diprediksi akan mengubah kultur dan media. Kepribadian yang dihasilkan oleh komputer ini dirancang untuk menjadi sempurna atau memvisualisasikan hal-hal yang paling diidamkan dari apa yang ingin dilihat oleh audiens tertentu yang ditarget. Apakah ini hanyalah sebuah strategi yang menyangkut persaingan dua kubu tertentu, atau sebuah peran media sosial yang harus dimainkan?

Lalu bagaimana dengan motivasi para perusahaan yang menciptakan influencer jenis ini?

Brud adalah perusahaan yang berada di belakang layar salah satu mega-influencer @lilmiquela di Instagram yang secara teratur menandai, mendukung, dan mengintegrasikan brand ke dalam feeds-nya. Di sisi seberang, ada Bermuda yang menjadi pendukung fanatik Trump—dirancang agar personanya terlihat seperti Iggy Azalea atau pendukung garis keras lainnya, Tommi Lahren—yang menggunakan pengaruhnya untuk menyuarakan opini politik dan bahkan hingga meretas akun “kompetitor”-nya, Miquela.

Saat kedua influencer virtual ini hangat diperbincangkan, kemudian muncul sebuah spekulasi bahwa sebenarnya keduanya berasal dari perusahaan yang sama yang dirancang dan dioperasikan oleh mereka sendiri. Namun, hal ini tetap menjadi spekulasi dan kita tidak pernah mendapatkan jawaban yang pasti.

Dan juga—yang menjadi masalah utama—bagaimana kita bisa menaruh kepercayaan pada generasi baru influencer ini? Jelas, mereka adalah impian setiap tim pemasaran sebab influencer virtual dapat ditempatkan di berbagai tempat eksotis di mana pun di seluruh dunia tanpa harus membeli tiket atau mendandani mereka dari ujung kepala hingga ujung kaki. Namun justru itulah yang menjadi kelemahannya karena ia tidak bisa merasakan pengalaman menggunakan sebuah produk atau jasa. Bagi sebagian besar pengguna media sosial, influencer (manusia) adalah tempat mereka mencari petunjuk dan ulasan tentang sebuah produk atau jasa sebelum memutuskan untuk ikut mencoba atau tidak. Namun sejauh ini, belum ada data konkret apakah barang-barang yang dikenakan influencer virtual tersebut berdampak signifikan pada apa yang konsumen pilih untuk dibeli.

Influencer virtual melahirkan banyak kontroversi—sekaligus memotivasi yang lainnya untuk menciptakan hal serupa.

Mungkin Anda pernah mendengar tentang Zoella, seorang beauty & lifestyle vlogger yang kemudian menjadi penulis dan mencatat rekor debut penjualan tercepat—yap, ia menjual lebih banyak dari buku debut Harry Potter dan 50 Shade of Grey dengan menjual 78.109 eksemplar buku perdananya berjudul “Girl Online”. Atau mungkin, Anda lebih sering melihat media mengungkap cerita kontroversial dari seorang influencer alih-alih kesuksesannya. Misalnya seperti Belle Gibson yang menipu pengikutnya di Instagram dengan mengatakan bahwa ia mengidap kanker dan mengobatinya dengan pola makan nabati (tentu saja menggunakan buku dan aplikasi bikinannya sendiri untuk dijual) atau videogamer paling terkenal seantero YouTube dan kemitraan berbayar yang tak terhitung jumlahnya hanya untuk tertangkap basah membuat komentar berbau rasisme.

Efek media sosial terhadap kesehatan mental kolektif anak muda secara global adalah masalah lain yang telah didiskusikan dan banyak dikritik. Para ahli membangun jembatan penghubung antara penggunaan media sosial dan peningkatan depresi dan kecemasan dan bahkan peningkatan Orthorexia Nervosa—jenis gangguan makan baru yang berpusat di sekitar dorongan obsesif untuk makan hanya makanan tertentu seperti yang dikenal dengan pure foods dalam biologi (umumnya dikenal dengan makan bersih atau clean eating).

Di samping itu, Google juga turut membagikan statistik yang menunjukkan bahwa 70% pelanggan remaja lebih memercayai bintang YouTube ketimbang selebriti lainnya dan 4 dari 10 pelanggan milenials mengatakan bahwa kreator favorit mereka jauh lebih memahami mereka daripada teman-teman mereka sendiri. Semua ini hanyalah sebagian contoh kecil tentang seberapa mendalam kepercayaan dan pribadi hubungan digital semacam ini—dan berpotensi menguntungkan jika Anda adalah brand yang ingin menargetkan audiens yang setia.

Intinya, seluruh fenomena influencer akan memunculkan lebih banyak pertanyaan daripada jawaban sebenarnya. Dan terbentuknya fenomena atau tren baru di dunia influencer bagaimana pun akan tetap melahirkan pro dan kontra. Soal mana yang terbaik dalam hal jenis influencer, kembali ke brand masing-masing untuk memutuskan—menyesuaikannya dengan kampanye mereka.

Give your Opinions

Simple Share Buttons