Potensi Virtual Influencer dan Legalitas yang Kabur

Meningkatnya prevalensi bot dan sistem otomatis lainnya di internet telah mengguncang industri iklan digital selama beberapa tahun terakhir, terutama melalui hubungan mereka dengan lalu lintas dan penayangan iklan yang tidak resmi.

Brand kini mulai membalikkan skenario dengan menggunakan bot dan kecerdasan buatan (AI) untuk meraup keuntungan mereka sendiri. Sebagai catatan khusus, beberapa brand memanfaatkan pasar influencer yang sedang tumbuh dan berkembang dengan menciptakan atau terlibat dengan influencer virtual atau AI (Artificial Intelligence).

Para influencer ini, kita tahu, bukanlah pribadi yang nyata, tetapi mereka ada di internet dan lingkungan digital lainnya dan ikut berinteraksi dengan konsumen dengan cara yang sama seperti yang dilakukan influencer tradisional. Fakta yang membuat orang-orang terbelalak adalah, kadang-kadang kita tidak bisa membedakan mana influencer yang nyata dan mana yang virtual.

Influencer virtual sudah mewakili brand-brand besar

Mungkin kita semua setuju jika disebutkan bahwa influencer virtual yang sangat mencuri perhatian adalah Lil Miquela alias Miquela Sousa di Instagram, model-komputer dan artis musik yang kini memiliki lebih dari satu juta pengikut (saat ini 1.2 juta) dan sudah mendapat lencana verifikasi dari pihak Instagram. Meski tidak nyata, Lil Miquela memiliki identitas seperti usia, etnis, lokasi, dan bertingkah seperti influencer pada umumnya. Ia mengunggah foto selfie, memiliki pacar, berinteraksi dengan pengikut, menulis caption yang emotif—dan tentu saja, mempromosikan brand pihak ketiga.

Tingkat popularitas influencer virtual seperti Lil Miquela mencerminkan tren pemasaran yang lebih luas yang mengaburkan batas antara yang nyata dengan yang semu.

Dan tren ini telah terjadi saat ini.

Lihat bagaimana Coca-Cola baru-baru ini menandatangani kesepakatan dengan atlet virtual Alex Hunter, karakter yang dapat dikostumisasi sepenuhnya dalam video game FIFA, EA Sports.

Awal tahun ini, Fenty Beauty, toko kecantikan daring milik penyanyi terkenal Rihanna menampilkan model virtual di halaman Instagramnya. Dan tahun lalu, Chevrolet juga merilis “The Human Race”, sebuah kolaborasi dengan Epic Games yang menampilkan balapan antara pengemudi manusia dan kendaraan bertenaga AI.

Masing-masing contoh ini menunjukkan bukti bahwa terjadi peningkatan keinginan di antara brand dalam lingkup industri yang luas untuk menggabungkan kepribadian virtual dan artifisial ke dalam kampanye pemasaran mereka.

Tantangan dan hukum untuk PR

Sudahkan brand mempertimbangkan risiko menggunakan influencer vitual?

Secara teoretis, para influencer virtual dapat memberikan banyak keuntungan bagi brand dan agensi. Pertama, jika pengiklan menciptakan dan mengarahkan influencer, maka mereka mungkin memiliki tingkat kontrol tertentu atas apa yang akan disampaikan oleh influencer. Dalam artian lebih sederhana, pengiklan memiliki kendali penuh untuk menciptakan influencer ideal mereka lewat influencer virtual ini. Mereka bisa memperlakukan konten dengan merujuk pada demografi dan batas-batas pedoman hukum brand yang berlaku.

Demikian juga, keamanan brand dan PR yang buruk tampaknya mendapat perhatian yang lebih sedikit daripada influencer virtual yang kemungkinan besar disebabkan karena influencer virtual dapat diprogram untuk tidak membahas hal-hal tertentu, menggunakan kata-kata tertentu, atau untuk merepresentasikan brand pihak ketiga. Jelas hal ini menyenangkan bagi sebagian besar pengiklan sebab mereka benar-benar memiliki kekuatan untuk menentukan, mengontrol, dan mengarahkan influencer, yang mungkin tidak akan selalu terjadi ketika mereka bekerja sama dengan influencer tradisional yang nyata.

Pengiklan lebih bebas memperlakukan influencer virtual daripada influencer tradisional.

Jika influencer virtual tidak dapat selalu diarahkan dan dikendalikan, bayangkan apa yang terjadi ketika seseorang melintasi garis di dunia nyata. Ini akan menjadi bumerang untuk pengiklan dan influencer virtualnya sebab pesan yang disampaikan bisa saja menyesatkan karena tidak adanya batasan yang ditetapkan oleh influencer—hanya menguntungkan dari sisi pengiklan.

Sebagaimana kita tahu, FTC (Federal Trade Commission) telah mengeluarkan aturan bahwa influencer harus menjelaskan sebuah pos berbayar ditandai dengan tag atau apa pun yang menjelaskan bahwa itu berbayar dan influencer virtual seharusnya juga diprogram demikian. FTC lebih lanjut mengatakan bahwa pengiklan dan lembaga memiliki tugas untuk sama-sama memantau influencer dan platform influencer pihak ketiga untuk memastikan kewajiban dalam mematuhi aturan hukum yang berlaku.

Dalam semua kemungkinan, tugas ini meluas ke influencer baik influencer yang nyata maupun virtual. Persyaratan tersebut sangat relevan mengingat angka besar yang tak terhingga yang mengelilingi influencer virtual tersebut.

Menavigasi yang tidak dikenal

Terlepas dari kekhawatiran—apakah kekhawatiran ini murni bersifat legal atau lebih luas, seperti PR dan keamanan brand—risiko melibatkan influencer virtual dapat sedikit dikurangi dengan mendapatkan klausul keamanan dan moral brand yang kuat, jaminan, dan kewajiban ganti rugi dalam kontrak dengan platform influencer (atau dari mitra teknologi influencer jika brand mengembangkan infuencer virtual mereka sendiri).

Hati-hati dalam mempertimbangkan risiko sejak awal dan lakukan pemantauan secara berkala sejak peluncuran kampanye, termasuk penghentian influencer yang terlibat dalam perilaku yang tidak legal, juga penting untuk mengurangi risiko yang dianggap sebagai faktor penting oleh FTC.

Meskipun FTC sendiri belum mempertimbangkan soal legalitas influencer virtual, dan kita belum tahu sejauh apa tingkat pengawasan di area ini, brand—yang memutuskan untuk melanjutkan kampanye dengan influencer virtual—harus melanjutkan dengan hati-hati dan tetap menetapkan batasan kendali sebagaimana jika mereka menetapkan batasan ketika bekerja sama dengan influencer tradisional atau influencer yang nyata (manusia).

Potensi yang menggiurkan dari influencer virtual jelas tidak bisa dipandang sebelah mata, tetapi pemasar dan pengiklan juga tidak boleh serta-merta menutup mata terhadap risiko yang dapat ditimbulkan dari menjamurnya jenis influencer ini di masa yang akan datang.

Give your Opinions

Simple Share Buttons