Masa Depan Virtual Influencer dan Dampaknya Terhadap Dunia Pemasaran

Benarkah influencer virtual mengaburkan batas antara yang nyata dengan yang palsu?

Kegiatan menggulir layar ponsel di media sosial secara sadar tentu saja dipengaruhi oleh orang-orang yang kita ikuti. Mereka adalah teman, selebriti, atlet, atau mungkin bloger yang menggunakan produk tertentu, makan di restoran khusus, dan mengenakan pakaian yang trendi. Kita juga jelas sudah begitu familiernya dengan fakta bahwa banyak konten yang kita lihat di media sosial adalah salah bentuk pemasaran era digital. Tetapi bagaimanakah dengan influencer yang sebenarnya tidak hidup di kehidupan nyata?

Mari kita kenalan lebih lanjut dengan Lil Miquela de Sousa

Dalam artikel sebelumnya, kami sudah menyinggung sedikit demi sedikit tentang influencer yang sangat kontroversial ini.

Ia adalah influencer  kategori mega berumur 20 tahun yang kini sudah memiliki pengikut sebanyak 1.2 juta orang di Instagram. Pada pandangan pertama, mungkin Anda tidak akan curiga dan melihatnya sama saja seperti influencer lainnya yang juga Anda lihat di platform media sosial yang sama; ia mengenakan pakaian rancangan perancang busana, menghadiri acara-acara besar, meniru pose di sampul majalah terkenal, dan bahkan ia memiliki satu single di Spotify yang berjudul “Not Mine”.

Lalu, apa istimewanya dan apa yang membuatnya menonjol dan lebih banyak dibincangkan dari influencer lainnya? Kalau Anda mengikuti artikel kami maka Anda akan tahu bahwa jawabannya adalah karena sebenarnya Lil Miquela tidak pernah ada.

Lil Miquela tidak nyata.

Ia adalah influencer yang diciptakan oleh Brud, sebuah perusahaan yang berbasis di Los Angeles yang memang berfokus mengembangkan robotika dan kecerdasan buatan dalam bisnis media. Namun meski ia tidak ada di kehidupan nyata, ia tetap ada di Instagram mengunggah kegiatannya sehari-hari seperti manusia (dan kehidupannya yang diimpikan para milenials, tentu saja) pada umumnya. Ia kemudian dikenal sebagai virtual influencer.

Jika Anda menggulir linimasanya, Anda tidak akan mendapat klu sedikit pun bahwa ia adalah karakter yang bersifat fiktif. Dia memang dibuat dan diposisikan seolah-olah manusia normal dan bertingkah layaknya manusia pada umumnya. Penampilannya sangat good looking dan memang terlihat sangat eye catching, tetapi begitu pula dengan influencer nyata di luaran sana sehingga kita tidak bisa menemukan celah untuk melihatnya sebagai karakter ilusi.

Selain tentang fesyen, Lil Miquela juga menyuarakan opini sosial. Salah satunya adalah ketika ia menyatakan mendukung hak-hak transgender dan menjadi pengikut gerakan Black Lives Matter; sebuah organisasi berskala internasional yang menentang keras kekerasan dan rasisme terhadap orang-orang berkulit hitam. Hal inilah yang membuatnya terlihat seperti manusia biasa, bukan avatar. Ini adalah sebuah fakta, bahwa seseorang yang jelas-jelas bukan manusia mampu memiliki basis pengikut yang sangat besar, yang kemudian mulai menimbulkan pertanyaan besar ke publik tentang realitas, identitas, dan pengaruh sosial. Apakah ada perbedaan antara influencer nyata dan yang palsu?

Influencer (Virtual) Sosial

Influencer sosial saat ini sudah lumrah dijadikan sebagai alat pemasaran digital. Kolaborasi antara brand dan influencer sosial dapat meningkatkan brand awareness dan engagement yang tinggi terhadap konsumen. Konten milik influencer sosial dapat disunting oleh brand yang bekerja sama dengan mereka. Tak terkecuali Lil Miquela, ia juga digunakan sebagai alat pemasaran brand-brand besar di luar sana sama seperti influencer sosial lainnya.

Ketika kemudian diketahui fakta bahwa ia ternyata tidak nyata, ia malah justru semakin mendapat perhatian (yang juga berarti pengikut sejak setiap orang membicarakannya). Tentu saja banyak juga kontroversi dan pro-kontra yang mencuat ketika terungkap bahwa ia tidak nyata, terutama pertanyaan tentang apakah peraturan tentang iklan di platform media sosial juga berlaku untuk influencer yang sifatnya virtual? Apakah influencer virtual berkontribusi terhadap norma-norma kecantikan yang tak bisa ia jamah? Apakah secara moral sudah benar jika manusia dipengaruhi oleh pemberi pengaruh yang tidak nyata? Pertanyaan-pertanyaan ini masih sulit untuk dijawab namun sebaiknya mulai dipikirkan karena mereka sudah hadir dan membaur bersama kita. Selain virtual influencer, sebut saja virtual reality, artificial intelligence, dan robotika yang sudah hadir lebih dulu dalam kehidupan manusia dengan tujuan mempermudah aktivitas dan pekerjaan manusia itu sendiri.

Semakin hari semuanya akan serba virtual

Tapi tahukah Anda, Lil Miquela bukanlah selebriti pertama yang mengusung konsep virtual. Pada akhir tahun 90-an (tepatnya tahun 1998) seorang musisi yang berasal dari Inggris menciptakan sebuah grup band virtual bernama Gorillaz.

Gorillaz terkenal hingga ke luar Inggris dan sempat memenangkan penghargaan dari Grammy Award. Selain mereka, ada juga Hatsuna Meku yang mengusung konsep virtual berupa hologram untuk membantu Lady Gaga. Selain media hiburan, sejatinya karakter virtual juga dapat digunakan dalam berbagai situasi. Misalnya Sweetie, karakter virtual yang diciptakan oleh organisasi hak anak internasional bernama Terres des Hommes melacak wisatawan pelaku seks anak di bawah umur.

Bersama mereka, seperti apakah masa depan? Bisa jadi nanti kita akan datang ke bioskop dengan aktor virtual terkenal atau menonton berita yang dipandu oleh wartawan virtual. Kedengarannya mungkin seperti fiksi ilmiah, tetapi kita sudah mulai menuju ke arah tersebut. Karakter virtual berhasil menciptakan kemungkinan baru di banyak bidang terutama pemasaran.

Lalu pertanyaannya kemudian, baik atau burukkah kehadiran influencer virtual ini di antara influencer sungguhan? Dan apakah mereka harus diperlakukan khusus, atau diperlakukan sama dengan manusia normal? Jawabannya yang paling bijak untuk pertanyaan pertama mungkin adalah: tergantung influencer tersebut digunakan untuk kepentingan apa, sedangkan yang kedua akan lebih bijak jika diserahkan kepada yang lebih berhak seperti FTC (Federal Trade Commission).

Give your Opinions

Simple Share Buttons