Dua tahun sejak Instagram meluncurkan IGTV, akhirnya muncul juga fitur yang ditunggu-tunggu para pemasar yaitu kesempatan untuk beriklan melalui IGTV. Meski demikian, ada kekhawatiran bagi influencer tentang bagaimana hal ini dapat membantu mereka menumbuhkan audiensi dan menghasilkan uang.
Bulan lalu, Instagram mengonfirmasi bahwa mereka telah membuat prototipe internal bernama Instagram Partner Program yang akan memungkinkan para kreator menghasilkan uang dari iklan yang tampil di video IGTV mereka. Namun, pernyataan ini belum dijelaskan secara lebih dalam. Salah seorang dari Facebook mengatakan, “Kami harus mencari cara untuk membuat kreator konten menghasilkan uang dengan IGTV. Detailnya belum dapat kami bagikan sekarang, tetapi kami akan terus mengembangkannya.”
“Monetisasi membuat saya sedikit gugup,” kata Adam, seorang kreator dan juga penerbit yang dikenal lewat blognya, Travels of Adam. Ia mengingat masa di mana pernah ada video yang diiklankan dengan biaya yang cukup besar, tetapi tiba-tiba hancur setelah Facebook mengubah cara kerja algoritmenya secara tiba-tiba. “Video yang menghasilkan uang lewat iklannya? Saya enggan menyelaminya lebih dalam, dulu pernah berakhir jadi bencana,” katanya.
Setiap pengiklan mengisyaratkan bahwa mereka menginginkan video dari influencer dan kreator, jadi memercayakan platform yang masih baru seperti IGTV untuk membayar kreator lewat iklan yang muncul di dalam video sebagaimana yang dilakukan YouTube, rasanya masih begitu jauh mengingat IGTV sendiri tidak semeledak ketika Instagram memperkenalkan fitur Story.
Sebelum merumuskan rencana monetisasi, Instagram harus lebih dulu meyakinkan para kreator untuk berinvestasi lebih dulu dalam bentuk membuat konten yang kompatibel dengan format IGTV. Kurangnya data dan insight yang dimiliki oleh IGTV dibandingkan YouTube yang memang sudah diakui kehebatannya dalam hal konten dan monetisasi, adalah salah satu alasan besar yang membuat banyak kreator di luar sana yang enggan membuat konten untuk IGTV. Alih-alih membuat konten untuk IGTV, kebanyakan kreator memilih membuat konten untuk platform mereka sendiri terlebih dahulu.
Monetisasi IGTV untuk para kreator tidak akan serta merta mengubah strategi konten yang sudah dibuat dan ditetapkan oleh para kreator, tetapi tentu saja mereka harus mendedikasikan waktu yang lebih panjang untuk membuat video baru dengan format khusus, dan tentu saja upaya yang lebih keras—yang berarti seharusnya insentif lebih besar. Konten kecantikan dan lifestyle adalah dua kategori yang sangat mengambil peran di YouTube, dan Instagram berkomitmen untuk menawarkan bagi hasil yang sama untuk para kreator di IGTV.
Michella Vaiz, seorang kreator di balik ElaVegan, mengatakan bahwa Instagram harusnya mengizinkan kreator untuk memonetisasi video IGTV dengan durasi yang lebih pendek dan lebih panjang, bukan hanya yang minimal berdurasi 2 menit. Meskipun Michella sendiri menghasilkan lebih banyak uang di platformnya sendiri, ia sering kali memposting konten bersponsor di Instagram.
Minimum yang ditetapkan Instagram untuk dimonetisasi akan menjadi sangat penting karena IGTV akan bersaing dengan platform berbasis video lainnya yang saat ini sedang meledak: TikTok. TikTok memang belum dimonetisasi untuk kreator, tetapi, sama seperti IGTV, mereka sedang berjalan ke arah sana. Maka dari itu, jika kreator mampu menghasilkan jumlah uang yang sama atau bahkan lebih banyak dengan mengunggah konten berdurasi lebih pendek (15-20 detik) di TikTok, tentu saja mereka akan memiliki keengganan yang lebih besar untuk mengunggah konten dengan durasi 2-3 menit di Instagram.
Banyak orang yang mencurigai bahwa Instagram Partner Program ini nantinya akan mirip dengan Facebook Watch di mana iklan akan muncul di sela-sela video dan hanya berlaku untuk video dengan durasi tertentu—2-3 menit.
Instagram juga perlu menjadikan IGTV lebih dari sekadar tujuan wajib bagi penonton—seperti halnya membuka aplikasi Instagram itu sendiri, dan apa yang terjadi pada Facebook Watch. Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Sekitar sebulan lalu, Instagram menghapus ikon IGTV dari antarmuka aplikasi Instagram dan juru bicara Facebook mengakui bahwa sangat sedikit pengguna yang mengeklik ikon IGTV yang sebelumnya muncul di layar utama Instagram (sekarang Anda dapat menemukan tombol IGTV di tab Explore).
YouTube dan TikTok sama-sama populer meski keduanya amat-sangat berbeda. Hal inilah yang harus ditiru oleh IGTV: mereka harus punya hal yang menjadi pembeda untuk mengambil alih persingan di luar sana. Jika tidak, mereka hanya akan tersesat dan pengguna akan lebih memilih platform lain yang memiliki karakter sebagai pembeda.
Namun, bagaimanapun, tidak sedikit juga yang mengharapkan IGTV untuk memberikan prospek yang dapat membantu klien menjangkau konsumen. Beberapa orang setuju bahwa konsep dan format video yang ditawarkan oleh IGTV jauh lebih baik dibandingkan dengan yang ada di Facebook Watch, yang berarti bahwa ada secercah harapan yang bisa dikembangkan Instagram untuk mengambil hati audiens.
IGTV memang tidak se-booming Instagram Story ataupun Instagram itu sendiri, tetapi bukan berarti IGTV adalah produk yang gagal. Dengan memungkinkan pengguna membuat cuplikan IGTV untuk ditaruh ke Feed sudah menjadi indikasi bahwa IGTV sudah berada di jalur yang benar untuk menarik audiens. Cara ini cukup berhasil dan mampu membangun audiens khusus dengan karakter yang lebih kuat—yang berarti konten di IGTV harus lebih powerful untuk menjangkau audiens yang lebih luas.
Pembeli dan kreator pun akhirnya memiliki banyak masukan tentang bagaimana sebaiknya Instagram memperlakukan IGTV ini. Misalnya seperti iklan banner dan iklan jeda berdurasi panjang (15 detik) seperti yang ada di YouTube dan juga Facebook Watch. Jenis iklan seperti ini dianggap cukup efektif karena penonton akan tetap melanjutkan menonton.
Bagian iklan memang menjadi suatu pro dan kontra yang tidak ada habisnya, sebab sejatinya penonton tidak mengharapkan sebuah iklan. Namun, di sinilah autentisitas dari influencer dibutuhkan. Jika konten menarik, iklan tidak akan menjadi penghalang yang berarti untuk menghasilkan uang lewat iklan—di platform mana pun.
Give your Opinions