10 tahun yang lalu, sebanyak 80% anggaran biaya pemasaran dihabiskan lewat media, dan sekitar 90% dari anggaran tersebut habis di media TV.
Samantha Engman dari Bid4Papers yang pernah bekerja di salah satu agensi digital di Asia Tenggara di mana ia mendapatkan kesempatan bekerja sama dengan klien yag mengalokasikan anggaran biaya pemasaran hingga tiga per empat dari total anggaran untuk kerja sama dengan influencer.
Sebuah pertanyaan kemudian muncul: mengapa semua brand di Asia “tergila-gila” dengan bentuk pemasaran influencer?
Asia saat ini berada di puncak pertumbuhan digital dengan tingkat penetrasi ponsel pintar mendekati angka 90%. Populasi Vietnam, Filipina, Indonesia, Taiwan, dan Korea sangat muda. Orang-orang di bawah usia tiga puluh tahun membuat 30 hingga 50 persen populasi. Menurut NexMo, Asia Timur dan Asia Tenggara adalah pasar sosial nomor #1 dan #2 di dunia dengan 1 miliar pengguna secara kumulatif mengakses berbagai platform media sosial di kedua wilayah tersebut.
Anak-anak muda cenderung lebih menyukai ponsel pintar daripada TV. Dan mereka memiliki kesadaran yang cukup tinggi perihal iklan. Mereka tidak akan menelan iklan mentah-mentah—kecuali itu dibuat oleh influencer favorit mereka.
Di Vietnam saja, lebih dari 50% penonton muda dipengaruhi oleh pilihan mode seorang pemimpin opini. Lebih dari 60% mengaku siap belajar dari pengalaman mereka.
Beberapa hal spesifik di wilayah ini membuat influencer lebih autentik dan powerful:
- Konten disesuaikan dengan audiens. Orang-orang di Asia Tenggara kebanyakan mengakses internet melalui perangkat seluler. Alih-alih menemukan apa yang mereka cari melalui komputer desktop, mereka mengambil informasi dari hasil ulasan di umpan sosial, dan ini adalah ladang yang sangat pas untuk pemaksimalan kinerja influencer.
- Memahami realitas data lokal. Koneksi tidak stabil dan bagian-bagian kecil dari data yang terputus-putus. Dengan menyempurnakan sedikit konten untuk berbagai saluran (Facebook, Twitter, Instagram), influencer membuat hidup para audiens jadi lebih mudah.
- Hubungan emosional yang intim. Para penonton di Asia Tenggara benar-benar suka diperlakukan secara lebih personal. Influencer di sini mengurasi umpan mereka berdasarkan komentar dan reaksi pengikut. Jadi, mereka memenangkan kepercayaan mendalam dan monetisasinya dengan menaburkan diri mereka melalui iklan yang tersembunyi.
Bagaimana kutu-kutu buku internet bertranformasi menjadi orang-orang keren
Bintang film dan musik bisa saja membanggakan jutaan pengikutnya di media sosial. Tetapi, rasio engagement mereka hanya hampir setengah dari apa yang dimiliki oleh micro-influencer (sumber informasi: Digiday).
Di Asia, statistik ini bahkan lebih mengesankan lagi, di mana micro-influencer mampu menghasilkan rasio keterlibatan hingga 10 kali lebih tinggi daripada kategori macro-influencer. Akun-akun berceruk dengan 10.000 hingga 100.000 pengikut adalah pemimpin opini yang nyata untuk teman, keluarga, dan pengikut mereka lainnya. Manfaat dari audiens mereka yang sudah jadi (yang dibangun dalam waktu yang tidak singkat) adalah mereka memiliki tingkat kepercayaan yang sangat tinggi. Kami hanya tidak ingin berlebihan menyebut mereka memiliki loyalitas tanpa batas. Singkatnya, rentang influencer “micro” ini memberikan rasio keterlibatan dan tingkat konversi yang jauh lebih baik.
Di mana brand dapat menemukan micro-influencer?
Agensi
CampaignAsia melihat terjadi peledakan agensi marketing influencer yang membawa nama baru setiap hari. Bahkan nama-nama besar di negara Barat sana pun sudah mulai melihat peluang dan memasuki pasar.
Kelebihan dari menggunakan jasa agensi adalah bebas repot. Anda tinggal mengatur KPI dan menyebutkan audiens yang Anda inginkan. Sementara kekurangannya adalah harga, Anda harus bersiap untuk mengeluarkan dana ekstra sekitar 20-30% lebih banyak jika memutuskan menggunakan jasa agensi.
Platform
Apakah Anda punya alasan yang cukup untuk merayu lusinan micro-influencer? Ada begitu banyak platform untuk Anda coba. Kelebihannya adalah Anda hanya membutuhkan kurang dari lima menit untuk mendaftar, memberitahukan kebutuhan Anda, besaran anggaran yang Anda ingin habiskan, dan semuanya sudah siap.
Influencer jenis apa yang paling disukai brand?
Brand tentu saja tidak ingin neko-neko, mereka menyukai influencer dengan kriteria:
- Bisa terlibat dalam kampanye jangka panjang namun tidak “macet”
- Menyediakan data yang kelak akan dibutuhkan sebagai laporan untuk stakeholder: tidak terlalu banyak, tidak terlalu sedikit
- Pertumbuhan rasio engagement yang baik dari waktu ke waktu, bukan jumlah pengikut
- Pertumbuhan yang organik dan stabil lebih disukai daripada signifikan namun mencurigakan
- Untuk mengurangi risiko dan meningkatkan efisiensi, brand biasanya bekerja dengan beberapa influencer sekaligus. Tetapi tetap relevan dengan brand atau setidaknya kampanye produk yang sedang berlangsung.
Jadi, angka pengikut yang lebih kecil tidak lantas membuat Anda harus berputus asa.
Bagaimana brand merencanakan konten mereka dengan influencer?
Brand generated
Brand menghadirkan konten bagi influencer untuk kemudian disebarkan di berbagai platform sosial yang mereka miliki. Ini adalah cara yang sangat aman, namun bisa dibilang tidak efektif sebab kreativitas influencer dibatasi sehingga tingkat personalisasi rendah.
Co-developed
Konten harus mengikuti pedoman dan daftar ceklis yang disediakan oleh brand. Influencer datang dengan konsep yang mereka buat sendiri. Dampaknya akan lebih besar, tetapi begitu juga dengan risiko.
Influencer generated
Brand hanya bertugas memberikan tugas singkat dan umum. Selebihnya, mereka menyerahkan kepada influencer untuk mengkreasikan konten mereka sesuai dengan yang biasa mereka sajikan kepada audiens. Brand akan melihat besarnya risiko konten yang dibuat saat tiba pada bagian ulasan.
Lalu, strategi seperi apa yang terbukti menghasilkan ROI tertinggi?
- Kehadiran di acara dan kemitraan yang disponsori
- Membangun hype seputar peluncuran produk
- Menuliskan ulasan produk untuk meningkatkan kepercayaan dengan audiens
- Memiliki strategi Always-ON untuk meningkatkan citra brand
- Menciptakan peluang untuk konversi melalui penawaran dan promosi
Sebagai contoh kasus studi yang telah ditangani oleh StarNgage, Anda dapat melihat strategi promosi yang telah kami jalankan untuk berbagai brand, di sini.
Bagaimana brand mendapatkan hasil terbaik bersama micro-influencer?
- Bersikap simbiotik
- Buat intensi yang jelas: tentukan tujuan yang jelas, objektif, dan tentukan garis waktu
- Bangkitkan gairah mereka. Micro-influencer mencari berbagai insentif, sementara beberapa lainnya hanya mementingkan uang tunai. Beberapa lain akan peduli dengan akses VIP oleh brand, atau ketika mereka ditampilkan di situs web perusahaan.
- Temukan gaya komunikasi yang tepat. Tidak semua bloger, sejauh ini para instagramers, akan memeriksa surel mereka sebagaimana orang-orang kantoran melakukannya. Jika Anda bisa menemukan celah dalam komunikasi, cobalah untuk menggunakan Viber atau Telegram untuk menemukan solusi terbaik untuk semua orang. Buatlah jadi jangka panjang untuk memenangkan advokasi eksklusif seumur hidup untuk brand Anda.
Era hadirnya ad-blocker memang memaksa pemasar untuk beralih ke promosi nyata melalui influencer. Di Asia saat ini, brand-brand yang ingin eksis di web telah menentukan pilihan mereka. Setiap hari mereka melibatkan lebih banyak micro-influencer untuk advokasi brand mereka. Dan nampaknya tren ini akan bertahan untuk jangka waktu yang cukup panjang.
Give your Opinions