Integrasi Influencer sebagai Tren Kunci

Artikel ini khusus membahas tentang integrasi influencer marketing sebagai tren kunci pada bisnis jenis B2C (Business to Customer).

Sebanyak 39% pemasar B2C yang terlibat langsung dalam influencer marketing memperkirakan jumlah pendapatan atau laba influencer mereka meningkat dari tahun sebelumnya, di mana sekitar 5% ingin mengurangi pengeluaran influencer mereka, berdasarkan sebuah survei dari Linqia. Harapan untuk meningkatkan biaya yang dialokasikan pada influencer datang karena mayoritas merasa bahwa konten yang dibuat oleh influencer jauh lebih baik dan lebih efektif jika dibandingkan dengan konten yang diproduksi sendiri oleh brand.

Faktor lain yang memengaruhi adalah relevansi konten dan audiens dari influencer itu sendiri.

Memang, sebagian besar (78%) responden survei tersebut melaporkan bahwa influencer memiliki konten yang melebihi performa brand mereka (51%) atau sesuai dengan keinginan brand (27%).

Meskipun demikian, mengukur ROI tetap menjadi tantangan tersendiri bagi mereka yang bergelut di bidang influencer marketing. Kira-kira sekitar tiga per empat dari total responden mengatakan bahwa menentukan ROI dari influencer marketing adalah sebuah tantangan, dengan mudah membuatnya jadi kesulitan terbesar untuk diidentifikasi.

Hal tersebut kemungkinan besar disebabkan karena ketergantungan metrik engagement yang dibandingkan dengan hasil dari revenue. Metrik yang paling sering digunakan untuk mengukur keberhasilan program influencer marketing adalah engagement (90%), klik (59%), impresi (55%), konversi (54%), dan jangkauan (50%).

Kurang dari setengahnya, 46%, bagaimanapun, mengukur juga penjualan produk mereka.

Instagram Semakin Diminati, Snapchat Cenderung Diabaikan

Selanjutnya, ketika membahas tentang platform sosial yang paling penting bagi strategi influencer marketing, Instagram adalah pemenang telak dengan memetik 92% suara. Facebook (77%) dan blog (71%) mengikuti sebagai satu-satunya yang dianggap penting oleh sebagian besar responden. Anehnya, hanya 42% yang menganggap bahwa YouTube adalah salah satu platform sosial yang penting bagi mereka. Melihat “kekalahan” yang cukup telak ini, YouTube sepertinya memegang pangsa pasar yang berbeda.

Di ujung lain spektrum, Twitter dan Snapchat dianggap sebagai pilihan terakhir untuk digunakan dalam strategi influencer marketing tahun ini. studi lebih baru dari MediaKix juga menguak fakta bahwa influencer perempuan kini lebih menyukai dan mulai beralih dari Snapchat ke Instagram.

Lalu, Bagaimana dengan Tren Utama Tahun 2018?

Hampir semua responden memiliki beberapa jenis rencana untuk mengembangkan strategi influencer marketing mereka tahun 2018, tetapi, jangan berharap adanya teknologi baru.

Hanya 1 dari 6 (16%) yang berencana menggunakan AI untuk memperbaiki kinerja program influencer marketing mereka, dan bahkan lebih sedikit lagi yang mengharapkan menggunakan influencer di chatbots (7%) atau untuk terlibat dalam influencer marketing berbasis virtual seperti AR (4%). Ini adalah salah tren yang tidak terlalu dipikirkan oleh para pemasar yang menjadi responden, jadi sepertinya akan butuh beberapa waktu yang panjang (relatif) sebelum penggunaannya meluas di ruang influencer marketing. Kesimpulannya, tidak ada teknologi baru dalam strategi influencer marketing tahun ini.

Sebagai gantinya, tren paling populer yang kelihatannya siap untuk diadopsi tahun ini adalah integrasi dari influencer marketing baik di luar maupun di dalam influencer marketing itu sendiri.

Topping daftar adalah penggunaan program infuencer marketing yang memanfaatkan beberapa jenis influencer seperti selebriti, top-tier, micro-influencer, sebagai bagian dari strategi integrasi. Yang juga masuk dalam agenda adalah penggunaan konten influencer untuk meningkatkan kinerja saluran lain, dan mengintegrasikan konten influencer terkait dengan e-commerce untuk mendorong penjualan produk—tujuan akhir yang selalu menjadi tujuan akhir para pemasar.

Ada banyak influencer yang mengubah regulasinya karena dipengaruhi oleh regulasi dari FTC, namun beberapa pemasar dalam survei dari Linqia mengaku tidak terlalu mempersoalkan regulasi tersebut bahkan cenderung tidak memerlukannya.

Sekitar 71% responden mengakui bahwa mereka mengetahui soal regulasi tersebut (influencer dan brand harus jelas dalam melakukan kerja sama, transparan, dan harus mengungkapkan kualitas produk dengan sungguh-sungguh, bukan karena dibayar semata) namun 1 dari 8 (13%) responden mengatakan bahwa mereka tidak mengharuskan influencer untuk mematuhi peraturan FTC ketika mempromosikan sebuah konten bersponsor. Konten bersponsor yang dijelaskan di awal memang menarik minat audiens lebih sedikit daripada yang tidak sama sekali.

Kesimpulan: sebanyak 86 pemasar memutuskan untuk menggunakan influencer marketing untuk menjangkau pasar dan audiens baru hingga untuk meningkatkan penjualan, mulai tahun 2018 ini.

Give your Opinions

Simple Share Buttons