5 Kelebihan Micro-Influencer

Ada waktu dan tempat untuk segala hal. Misalnya, mengenakan tuksedo atau gaun pesta sangat cocok untuk dipadukan dengan dasi hitam dan sempurna untuk acara di malam hari, tetapi Anda akan ditatap dengan tatapan aneh ketika mengenakannya ke kantor saat jam kerja. Atau, Anda mungkin punya sepatu olahraga kesayangan, tetapi mengenakannya untuk jalan ke mal sangat tidak pantas, bahkan tanpa peduli soal kapan waktunya.

Begitu pula dengan ketika Anda bekerja dengan influencer, baik itu influencer yang sudah terkenal dan memiliki nama, atau micro-influencer yang belum begitu dikenal. Keduanya menawarkan solusi dan manfaat, tetapi ada saat-saat tertentu di mana micro-influencer adalah pilihan yang lebih baik daripada macro maupun mega-influencer.

Berikut ini adalah lima kelebihan micro-influencer dibandingkan dengan jenis influencer lainnya.

#1 Micro-Influencer Memiliki Tingkat Kepercayaan Lebih Tinggi

Kepercayaan adalah salah satu kunci dan hal besar dalam periklanan. Tapi ada sedikit masalah: orang-orang tidak selalu atau jarang memercayai iklan yang masih tradisional. Seperti yang dilaporkan oleh Business Insider, penggunaan Ad-blocker meningkat 30 persen pada tahun 2016 dengan lebih dari 615 juta perangkat menggunakan lebih dari satu jenis ad-blocker pada perangkat yang mereka gunakan.

Bahkan, Google sebagai perusahaan yang bertanggung jawab atas sebagian besar iklan yang beredar di internet juga ikut terlibat dalam permainan pemblokiran iklan ini. Per tahun 2018 ini, peramban Chrome milik Google akan mem-feature perangkat lunak ad-blocking untuk menghentikan munculnya jenis iklan pop-up dan banner yang memegaruhi kecepatan saat halaman dimuat.

Influencer marketing memberikan cara yang lebih terpercaya dan efektif kepada pemasar tentang bagaimana cara menjangkau pelanggan. Menurut SOCE, influencer marketing menduduki posisi kedua teratas sebagai teknik pemasaran paling efektif pada tahun 2016. Peringkat pertama diduduki oleh konten marketing, sedangkan peringkat ketiga dan seterusnya ditempati oleh endorsement selebriti, iklan daring, lalu iklan televisi.

Hal ini membawa kita kembali ke masalah kepercayaan; orang-orang tidak menaruh kepercayaan mereka secara penuh pada iklan daring atau bahkan iklan tradisional lainnya. Mereka mungkin merasa skeptis dengan pos dari influencer secara masif, terutama jika pos tersebut tidak diberi label sebagai iklan berbayar atau bisa saja para influencer tersebut dituduh sebagai penipu lewat iklan yang biasanya tidak terlihat realistis.

Tetapi, apa yang dipercayai orang-orang ini adalah rekomendasi dari orang-orang yang mereka kenal. Tiga bentuk iklan paling terpercaya, menurut Nielsen dalam survei periklanan global tahun 2015 lalu, adalah:

  • Rekomendasi dari teman atau keluarga
  • Ulasan yang dipos konsumen langsung secara daring
  • Konten editorial

Bekerja dengan micro-influencer memungkinkan brand untuk menawarkan beberapa versi dari ketiga bentuk iklan di atas. Bahkan sekalipun pengikut tidak mengenal micro-influencer tersebut secara personal di kehidupan nyata, tetapi ada rasa yang lebih dari sekadar mengikuti dan diikuti di antara keduanya.

Hal ini dapat dilihat dari interaksi micro-influencer dengan pengikutnya yang benar-benar nyata dan dekat. Mereka membalas komentar, menanggapi pertanyaan, sehingga muncul keakraban dan persahabatan.

Bahkan ketika micro-influencer tidak begitu ramah kepada pengikutnya, biasanya mereka menawarkan konten editorial sebagai alternatif.

#2 Biaya Micro-Influencer Lebih Murah

Tergantung pada besarnya nama, banyaknya pengikut, serta tingkat pengaruh mereka, bekerja dengan influencer bisa menjadi sangat mahal. Seperti yang dilaporkan oleh New York Times, influencer besar dengan lebih dari tiga juta pengikut bisa menghabiskan biaya hingga $75.000 hanya untuk satu pos Instagram.

SOCE menemukan bahwa ada kesenjangan persepsi harga yang terjadi antara apa yang diharapkan oleh pemasar untuk sebuah pos dari micro influencer dan biaya yang sebenarnya. Menurut SOCE, pemasar sering berekspektasi untuk membayar 13 kali lebih besar daripada harga rata-rata influencer.

Contoh kasus: pemasar rata-rata ingin membayar influencer seharga $272 per pos sementara influencer rata-rata hanya memasang harga sebesar $62, menurut SOCE.

Jika tidak mampu mengeluarkan biaya besar untuk satu influencer besar dengan jutaan pengikut, maka Anda tetap bisa menggunakan beberapa micro-influencer dengan beberapa ribu pengikut dengan hasil yang bisa saja lebih signifikan.

#3 Micro-Influencer Mendorong Lebih Banyak Engagement

Fakta bahwa orang lebih cenderung memercayai micro-influencer daripada para selebriti atau influencer yang lebih besar sejalan dengan sub judul tulisan ini; bahwa micro-influencer mendorong lebih banyak engagement daripada mega dan macro-influencer.

Seperti yang dilaporkan AdAge, ada hubungan langsung antara jumlah pengikut dengan engagement rate. Akun dengan pengikut kurang dari 1000 memiliki rata-rata engagement rate sebesar 8%. Sementara itu, akun dengan pengikut antara 1000-10.000 memiliki rasio sebesar 4% dan pada saat mencapai satu juta pengikut, rasio tersebut akan semakin turun hingga ke angka 1,7% pada rata-rata.

AdWeek melaporkan temuan yang lebih menarik. Mereka menemukan bahwa tidak hanya engagement rate yang menurut seiring bertambahnya pengikut, tetapi biaya pos tampaknya juga berpengaruh ke arah sana. Pos seharga kurang dari $49 memiliki tingkat engagement di atas 9% sedangkan pos seharga $1.000 memiliki tingkat engagement hanya sekitar 3%.

#4 Micro-Influencer Mampu Menjangkau Lebih Banyak Audiens Tertarget

Baik Instagram, Twitter, Facebook, ataupun YouTube, orang hanya mengikuti orang-orang yang mereka kenal saja, atau hanya mengikuti pengguna yang sesuai dengan minat dan ketertarikan mereka. SOCE melihat bahwa orang juga mulai mengikuti orang-orang yang terkenal di bidangnya, terutama pada platform seperti Twitter dan YouTube dan Instagram.

Micro-influencer yang mampu meraih 1000 pengikut pertamanya tanpa terkenal secara tradisional mengisyaratkan bahwa mereka diikuti karena memiliki kesamaan ketertarikan atau dengan kata lain kontennya konsisten dan tertarget.

Sebagai contoh, seorang beauty blogger fokus untuk hanya membagikan seputar kecantikan dan tidak membahas hal lain, maka orang-orang dengan ketertarikan di bidang politik tidak akan mengikutinya. Orang-orang ini saling mengikuti satu sama lain dan kita bisa tahu di sana terdapat orang-orang dengan ketertarikan yang jelas.

Dengan cara seperti itu, bukan hanya Anda akan mendapatkan audiens yang tertarget sangat spesifik, tetapi juga akan ada kemungkinan mendapatkan hal lebih dari micro-influencer tersebut: target pasar yang sangat menjanjikan.

#5 Lebih Mudah Terhubung dengan Micro-Influencer

Secara umum, micro-influencer lebih gampang ditemukan dan diajak bekerja sama dibanding dengan influencer yang sudah punya nama besar.

Jika Anda mencoba untuk bekerja sama dengan macro-influencer dengan 500.000 pengikut, kejadian surel dan panggilan diabaikan akan sering Anda alami karena orang tersebut sangat sibuk dan tidak punya waktu untuk hal-hal seperti itu. Atau dengan terpaksa, mungkin saja Anda akan dilayani oleh agen dari influencer tersebut sebagai rujukan.

Jika sudah berurusan dengan agen, maka akan banyak kesulitan yang Anda temui. Mereka bisa saja menganggap brand Anda tidak cukup terkenal untuk diajak bekerja sama, atau mungkin mereka memberi Anda daftar harga yang akan membuat Anda patah hati dan berpikir dua kali.

Micro-influencer, sebaliknya, tidak memiliki agen. Lagi pula para agen tersebut juga hanya melirik influencer dengan pengikut dan nama besar untuk mendapatkan keuntungan yang besar pula. Plus, sebagian besar micro-influencer selalu terbuka untuk kerja sama dengan brand. Anda dapat menemukan micro-influencer dengan melakukan pencarian cepat di mesin pencari Google, atau lewat marketplace khusus influencer.

Give your Opinions

Simple Share Buttons