Potensi Instagram Menjadi Platform Iklan Terbesar

Facebook semakin agresif dalam usaha menjadikan Instagram Stories sebagai platform iklan terbesar berikutnya.

Kini brand bisa beriklan di Instagram Stories dengan lebih mudah. Mereka dapat menggunakan tools yang disediakan Instagram untuk kemudian mengonversi trafik organik dan menjalankan iklan lewat Instagram Stories dengan produk atau konten yang sudah ada di Facebook. Cara ini memang dirancang untuk brand yang ingin menjangkau pasar lebih luas dengan konten yang sudah ada dan memberikan fleksibilitas lebih dengan cara membuat dan memulai iklan lewat Instagram Stories.

Facebook melihat peluang besar yang mampu menjadikan Instagram Stories sebagai platform iklan terbesar berikutnya dengan mencoba mendapatkan semua brand untuk menerima platform tersebut untuk beriklan.

Perusahaan-perusahaan baru saat ini (walaupun tidak sedikit juga perusahaan yang sudah berusia lama) membuat pembaruan yang memungkinkan brand dan bisnis untuk diiklankan di berbagai platform untuk menjangkau audiens yang tak terbatas, termasuk pembaruan yang memungkinkan pemasar yang telah menggunakan Instagram Stories untuk menggunakannya kembali sebagai iklan berbayar. Para pengiklan bisa menggunakan format iklan Canvas dari Facebook untuk Instagram Stories karena lebih mudah dijalankan terutama jika ingin membuat iklan yang sama di kedua platform (Facebook dan Instagram) dan Jaringan Audiens sejenis.

Instagram Stories memang berkembang pesat dalam waktu kurang dari satu tahun di mana sudah ada lebih dari 250 juta pengguna aktif setiap hari dan lebih dari 50% pelaku bisnis menggunakannya juga untuk mempromosikan produk dan layanan terbaru mereka kepada khalayak, data dari Instagram. Tools ini memang gunanya untuk menjangkau audiens baru dengan konten yang sudah ada, audiens akan tetap melihat relevansi pada konten yang ditayangkan sebab tanggal pengunggahan akan disembunyikan oleh sistem.

Instagram Stories

150 juta pengguna aktif harian pada akhir 2016

 

250 juta pengguna aktif harian pada akhir 2017.

Pembaruan ini juga dirancang untuk memberikan ruang lebih kepada pengiklan karena memberikan fleksibilitas tentang bagaimana membuat dan membeli iklan di Instagram Stories. Sebagai contoh, beberapa pengiklan mungkin tidak punya cukup sumber daya untuk membuat iklan kreatif dan menarik seperti brand besar yang sudah memiliki tim kreatif sendiri, maka mereka bisa menggunakan Canvas yang memungkinkan mereka untuk membuat iklan layar penuh dengan lebih mudah dan cepat. Bahkan, untuk pengiklan dengan sumber daya yang terbatas (brand baru), mereka bisa menggunakan konten yang sudah ada sebelumnya dan mengunggahnya kembali sebagai iklan menggunakan Power Editor atau Ads Manager yang disediakan oleh Facebook.

Brand yang belum besar biasanya memulai iklan di Instagram Stories dengan mengajak penonton mengenal lebih dekat soal layanan, produk baru, atau brand itu sendiri dengan membuat iklannya layar penuh dibantu Canvas. Mereka membuat iklan-iklan berisi manfaat, garansi produk, dan testimonial dari pelanggan yang sudah mencoba.

Di sisi lainnya, brand lebih memilih untuk menggunakan fitur-fitur kreatif dari Instagram Stories seperti filter wajah, boomerang, dan alat gambar bebas untuk membuat Instagram Stories dan mereproduksinya menjadi iklan dengan tujuan untuk melibatkan penonton ke dalam hal-hal yang lebih menyenangkan, tidak melulu soal penjualan. Kadang-kadang, audiens justru lebih terhibur dan cenderung akan kembali pada hal-hal yang menyenangkan, dan ketika mereka mendapatkan kesenangan dari menonton hiburan di Instagram Stories sebuah brand, penjualan akan menyusul dengan sendirinya. Ini sama halnya dengan memberikan jembatan pada perjalanan pelanggan, menemani mereka tidak hanya dalam urusan penjualan dan keputusan pembelian, tetapi lebih dari itu. Strategi ini mampu mendorong hasil yang lebih baik, autentik, organik dan efektif sekalipun butuh waktu sedikit lebih lama.

Dengan pilihan yang beragam, Instagram Stories menjadi media beriklan yang sangat aktraktif.

Banyak pengiklan berpendapat bahwa beriklan di Instagram Stories berarti harus mengandalkan kekuatan grafik, fotografi dan video yang bagus untuk hasil yang bagus. Tetapi kembali lagi, semua tergantung pada tujuan dan tingkat kreativitas untuk menjangkau keberagaman penonton. Tidak ada gunanya membuat konten baru tetapi tidak relevan, kadang-kadang konten yang sudah ada juga bisa dijadikan senjata. Tools baru dari Instagram Stories ini akan sangat digemari oleh brand baru (atau yang lebih kecil) karena jangkauan yang lebih luas dan tingkat relevansi yang tinggi dan itu baik untuk memulai bisnis.

Ini adalah sebuah loncatan yang sangat bagus bagi Instagram sebab pengiklan bisa membuat konten dengan mudah dan variatif tanpa perlu keahlian khusus. Semakin rendah tingkat penghalang untuk membuat konten pada sebuah platform, maka akan semakin digemari. Brand juga memiliki opsi untuk secara otomatis menautkan iklan mereka ke Instagram sekaligus Facebook dan Jaringan Audiens lainnya sehingga terlihat seperti mereka benar-benar superior dalam ranah ini.

Perpaduan kedua platform ketika membuat iklan, Instagram Stories dan Facebook Stories pada beberapa studi kasus mampu melambungkan brand awareness antara 30% hingga 50% lebih baik dibanding ketika hanya menggunakan salah satunya saja. Ini sempat dibuktikan oleh brand Procter and Gamble’s atau SK-II yang menguji coba iklan Facebook dan Instagram secara bersamaan.

Sebagai tambahan, pengiklan punya beberapa pilihan lain yang juga variatif; menggunakan fitur LIVE (ini bisa dimulai dengan menggunakan influencer), membagikan iklan ke pengguna tertentu atau membagikannya ke platform lain yang beragam dengan cara mengetuk ikon di pojok kanan bawah layar saat Stories ditampilkan, dan bagikan. Fitur yang beragam (dan lengkap) membuat Instagram Stories semakin diminati brand dan para pemasar, dan bisnis kecil tentu saja lebih memilih platform yang mampu menghasilkan engagement tertinggi.

Give your Opinions

Simple Share Buttons